Malam Kemenangan di Kuansing: Meriah, Khidmat, dan Penuh Pesan Tegas dari Bupati

Malam Kemenangan di Kuansing: Meriah, Khidmat, dan Penuh Pesan Tegas dari Bupati

Teluk Kuantan – Malam takbiran di jantung Kota Teluk Kuantan, Jumat (20/3/2026), berubah menjadi lautan gema takbir yang mengguncang suasana. Di tengah riuh semarak Pawai Takbir, Bupati Kuantan Singingi, Dr. H. Suhardiman Amby, melontarkan pesan tegas: jaga persatuan, jangan rusak makna Idul Fitri dengan hal-hal yang mencederai ukhuwah.

Dari panggung utama di kawasan Taman Jalur, Suhardiman tidak sekadar membuka acara. Ia langsung memimpin lantunan takbir yang menggema, menyulut semangat ribuan peserta yang hadir. Suasana pun seketika berubah khidmat sekaligus penuh energi kemenangan.

“Ini malam kemenangan. Jangan nodai dengan hal-hal yang tidak baik. Laksanakan pawai dengan tertib, jaga ukhuwah Islamiyah,” tegasnya di hadapan peserta dan tamu undangan.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Di tengah euforia takbiran yang kerap berujung pada keramaian tak terkendali di berbagai daerah, Suhardiman ingin memastikan Kuantan Singingi tetap menjadi contoh—meriah, tapi tetap beradab.

Sejumlah pejabat penting turut hadir, mulai dari Ketua DPRD Kuansing H. Juprizal, Kapolres AKBP Hidayat Perdana, hingga unsur TNI dan jajaran Pemkab Kuansing. Kehadiran mereka menjadi sinyal kuat bahwa pengamanan dan ketertiban menjadi prioritas utama.

Namun bukan hanya soal malam takbiran. Di momentum yang sama, Suhardiman juga “melempar bola panas” ke publik: Kuantan Singingi akan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Riau pada Juni mendatang.

“Kita akan jadi tuan rumah. Ini bukan sekadar event, ini harga diri daerah. Sambut tamu dengan keramahan terbaik,” ujarnya, memantik semangat kolektif masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Bupati juga menyerahkan bantuan Rp10 juta kepada peserta pawai takbir—sebuah suntikan semangat agar tradisi religi tetap hidup dan berkualitas.

Di sisi lain, Kepala Kantor Kementerian Agama Kuansing, H. Suhelmon, mengingatkan bahwa perbedaan awal Ramadan yang terjadi di Indonesia jangan sampai memecah belah umat.

“Perbedaan itu bukan ancaman, tapi kekuatan. Justru di situlah kita diuji untuk tetap bersatu,” katanya.

Malam itu, takbir tidak hanya berkumandang dari kendaraan pawai. Masjid dan mushala di Kenegerian Teluk Kuantan ikut bersahut-sahutan, menciptakan atmosfer religius yang dalam dan menyentuh.

Dengan 10 peserta pawai yang ambil bagian, Teluk Kuantan membuktikan: kemeriahan tak harus gaduh, kemenangan tak harus liar.

Malam takbiran kali ini bukan sekadar tradisi. Ia menjadi panggung pesan kuat—tentang persatuan, tentang identitas, dan tentang kesiapan Kuantan Singingi menyambut panggung yang lebih besar.

#Bupati Kuansing #suhardiman Amby #Pawai Takbir #Idul Fitri 1447 H